# Selamat Datang di Blog Baitul Hikmah Al-Aziziyah Gampong Tufah Kecamatan Jeunieb Kabupaten Bireuen. Sharing Informasi Terkini dan Berita-Berita Unik lainnya. #
Home » » KRITERIA ORANG BERILMU DAN BERAKAL

KRITERIA ORANG BERILMU DAN BERAKAL

Written By Blog on Thursday, 3 September 2026 | 05:55

Dijelaskan dalam kitab إِيقَاظُ الْهِمَمِ فِي شَرْحِ الْحِكَمِ (Iqāẓ al-Himam fī Syarḥ al-Ḥikam), mahakarya Syekh Ahmad bin Muhammad bin Ajibah Al-Husaini, salah satu syarah paling agung atas Al-Ḥikam karya Ibnu Athaillah As-Sakandari.


Di dalamnya beliau menulis:


مَنْ لَمْ يَفْهَمْ صَرِيرَ الْبَابِ، وَلَا طَنِينَ الذُّبَابِ، وَلَا نَبِيحَ الْكِلَابِ، فَلَيْسَ مِنْ ذَوِي الْأَلْبَابِ. وَأَمَّا مَنْ لَمْ يَبْلُغْ هَذَا الْمَقَامَ فَلَابُدَّ أَنْ يَلْزَمَ الْعُشَّ فِي حَضَانَةِ مَنْ يَرْزُقُهُ وَيُطْعِمُهُ، فَإِذَا طَارَ مِنَ الْعُشِّ قَبْلَ تَرْبِيَةِ الْجَنَاحِ اصْطَادَتْهُ الْكِلَابُ وَالْبِيزَانُ، وَلَعِبَتْ بِهِ الصِّبْيَانُ وَالنِّسَوَانُ.


Artinya, "Siapa yang belum memahami suara pintu, dengungan lalat, dan gonggongan anjing, maka ia belum termasuk golongan orang-orang yang memiliki kedalaman akal dan makrifat. Adapun orang yang belum mencapai maqam tersebut, hendaklah ia tetap tinggal di dalam sarangnya, berada di bawah asuhan orang yang memberinya makan dan membimbingnya. Sebab apabila ia nekat terbang sebelum sayapnya sempurna, niscaya ia akan diterkam anjing pemburu dan burung elang, bahkan menjadi permainan anak-anak dan kaum perempuan."


Sepintas, kalimat ini terdengar seperti kisah tentang burung, anjing, lalat, dan pintu. Namun siapa pun yang pernah memasuki dunia tasawuf akan segera menyadari bahwa para wali hampir tidak pernah berbicara tentang benda sebagaimana adanya. Mereka berbicara melalui bahasa lambang. Mereka menyembunyikan samudra makna di balik setetes kata. Inilah اِسْتِعَارَةٌ (isti'ārah), metafora spiritual tingkat tinggi yang hanya terbuka bagi mereka yang bersedia merenung lebih dalam daripada sekadar membaca.


Syekh Ibnu Ajibah sebenarnya sedang mengajarkan sebuah hukum kehidupan. Jalan menuju Allah tidak pernah dimulai dari panggung, melainkan dari persembunyian. Tidak dimulai dari sorotan manusia, melainkan dari kesunyian jiwa. Karena itulah beliau berbicara tentang الْعُزْلَةُ ('uzlah), التَّرْبِيَةُ (tarbiyah), dan perjalanan seorang سَالِكٌ (sālik) yang sedang ditempa sebelum layak memikul amanah ilmu.


Suara pintu, dengungan lalat, dan gonggongan anjing adalah bahasa simbol. Semuanya melambangkan hiruk-pikuk dunia yang setiap hari mengetuk kesadaran manusia: pujian yang memabukkan, cacian yang melukai, fitnah yang beredar tanpa henti, bisikan hawa nafsu, godaan popularitas, hingga tipu daya setan yang datang dengan wajah paling meyakinkan. Seorang salik yang telah matang bukan berarti tidak lagi mendengar semua itu. Justru ia mendengarnya dengan sangat jelas, tetapi telah memahami hakikatnya sehingga tidak lagi diperbudak olehnya.


Sebaliknya, "tetap tinggal di dalam sarang" adalah lambang مُلَازَمَةٌ (mulāzamah), yakni kesetiaan menempa diri di bawah bimbingan seorang مُرْشِدٌ (mursyid) yang telah lebih dahulu menapaki jalan itu. Di sanalah ego dipatahkan, kesombongan dilebur, hawa nafsu dididik, dan sayap-sayap ilmu dikuatkan sedikit demi sedikit. Sebab seekor burung tidak belajar terbang ketika berada di angkasa. Ia belajar terbang justru ketika masih berada di dalam sarangnya.


Di sinilah letak pesan yang menurutku terasa begitu abadi. Musuh terbesar seorang pencari ilmu bukanlah kebodohan, melainkan ilusi bahwa dirinya telah selesai belajar. Betapa banyak orang yang baru mengenal setetes ilmu tetapi sudah ingin menjadi lautan. Baru memahami beberapa halaman kitab tetapi merasa pantas menghakimi dunia. Baru mendapat sedikit pengikut tetapi merasa layak memimpin umat. Padahal, setiap sayap yang tumbuh terlalu cepat hampir selalu patah sebelum sempat mengangkasa.


Karena itu, Syekh Ibnu Ajibah mengingatkan dengan tamsil yang sangat tajam. Anak burung yang memaksa meninggalkan sarangnya sebelum waktunya tidak akan menikmati kebebasan langit. Ia justru menjadi mangsa pertama yang disambar elang, diterkam anjing pemburu, lalu dipermainkan siapa saja yang menemukannya. Dalam kehidupan nyata, elang dan anjing itu adalah fitnah zaman, syubhat yang membungkus kebatilan dengan wajah kebenaran, ambisi yang menyamar sebagai dakwah, serta manusia-manusia licik yang selalu menunggu korban yang belum matang.


Maka menurutku, tamsil ini sesungguhnya bukan hanya berbicara tentang adab menuntut ilmu. Ia sedang mengajarkan salah satu hukum paling sunyi dalam perjalanan ruhani: jangan tergesa-gesa keluar dari sarang hanya karena melihat burung lain telah terbang tinggi. Setiap burung memiliki musimnya sendiri. Setiap sayap memiliki waktunya sendiri untuk menguat. Dan setiap jiwa memiliki takdirnya sendiri untuk dipanggil terbang.


Selesaikan dulu masa belajarmu. Habiskan waktumu untuk menempa diri, bukan membangun citra. Perbanyak duduk di hadapan guru sebelum berdiri di hadapan manusia. Sebab ketika sayapmu benar-benar telah kuat, engkau tidak perlu lagi membuktikan bahwa engkau mampu terbang. Langit sendiri akan menjadi saksi bahwa waktumu memang telah tiba.


(Hanya untuk penghobi baca.)

Facebook Komentar:

0 comments:

Post a Comment

Wisata Aceh

Popular Posts